Mereka Hanya Ingin Didengar

โ€”

by

Sebagai lawyer, kita harus mampu beradaptasi dengan cepat. Mampu untuk memberikan respon yang baik dan memberikan rasa nyaman bagi klien. Sering kali klien tidak mau jujur kepada klien nya karena dia merasa tidak nyaman untuk berbicara secara terbuka kepada lawyer nya. Kita tidak bisa berharap terlalu banyak agar klien jujur kepada kita. Oleh karena nya seorang lawyer harus dapat mengorek informasi dari klien nya.

Dalam memberikan konsultasi, saya tidak pernah membatasi diri saya hanya berbicara tentang perkara. Terkadang kita harus memulai dengan hal-hal kecil di luar konteks. Ciptakan rasa nyaman agar klien dapat berbicara dengan luwes. Walaupun saya akui saya bukan ahli nya.

Suatu ketika saya diminta untuk memberikan konsultasi kepada seorang klien. Kasus perdata, masalah rumah tangga. Saat itu saya masih belum menikah, tidak begitu memahami hubungan rumah tangga. Saya hanya dipesankan untuk memberikan konsultasi tentang hukum nya saja.

Klien yang datang seorang ibu, usia sudah tua, mungkin akhir enam puluhan. Dia menceritakan tentang hubungan nya dengan anak-anak nya. Sepuluh menit berjalan, saya memberikan kesempatan si ibu untuk berbicara tanpa saya potong, meskipun dari cerita nya saya belum melihat ke arah mana permasalahan ini.

Inti nya si ibu ini hanya kesepian. Anak-anak nya sudah dewasa semua. Saya tanyakan, apakah ada permasalahan warisan? Jawaban si ibu tidak. Lalu masalah hukum nya apa? Tidak ada sama sekali. Mungkin kita berfikir bahwa si ibu salah alamat, harus nya si ibu pergi ke konselor bukan ke lawyer.

Tiga puluh menit si ibu bercerita, saya hanya mendengar. Setelah selesai bercerita, saya mencoba untuk membuka obrolan ringan tentang keseharian si ibu. Ternyata si ibu seorang pensiunan. Saya mulai menanyakan tentang bagaimana dulu nya saat si ibu bekerja. Saya selipkan jokes ringan nan receh. Si ibu mulai terbawa suasana, ikut tertawa dan wajah nya mulai berseri-seri.

Setelah saya rasa cukup, saya mencoba akhiri sesi konsultasi dengan bertanya, โ€œapakah masih ada lagi yang ingin ibu sampaikan?โ€

Dia menjawab, โ€œtidak pak, sudah cukup. Terima kasih ya pak, saya sedikit lega. Tadinya saya bingung mau cerita kemana, kalau cerita ke teman-teman takut digosipin. Makanya saya pikir mending cerita ke orang yang saya tidak kenal, kebetulan saya lewat depan kantor bapak, jadi saya mampir.”

Intinya si ibu hanya ingin di dengarkan. Meskipun pada akhirnya tidak ada sangkut pautnya dengan hukum. Keesokan harinya, resepsionis lantai satu mengabarkan, si ibu kembali dan menitikan dua kotak kue untuk saya.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *