BERCANDA ATAU BULLYING

Beberapa hari terakhir, linimasa kita dipenuhi dengan potongan video seorang penceramah yang sedang dirujak oleh netizen Indonesia, karena di dalam video tersebut sang Penceramah mengatakan “goblok” kepada seorang bapak yang sedang berjualan es teh. Meskipun si Penceramah tersebut telah memberikan klarifikasi bahwa pada saat itu, beliau sedang becanda, dan beliau juga telah menemui si bapak penjual di rumah nya untuk meminta maaf secara langsung, namun tindakan tersebut belum bisa meredakan hujatan netizen.

Tentu kita sepakat, dalam konteks bercanda, ada batasan yang tidak boleh kita langgar. Ada prinsip-prinsip tertentu yang sangat tabu untuk dijadikan objek sebuah candaan. Raditya Dika pernah berkata, bahwa jangan pernah menyinggung kondisi seseorang, saat dimana orang tersebut tidak dapat mengubah kondisi tersebut. Misalnya kondisi fisik seseorang jangan dijadikan candaan karena itu termasuk pada body shamming.

Kembali lagi kepada video si Penceramah. Saya pribadi sering menonton ceramah-ceramah beliau, dan beliau cukup sering memberikan “guyonan” di sela-sela ceramahnya. Namun kali ini, candaan beliau berada “di pinggir jurang”. Saya sendiri melihat ekspresi si bapak penjual es teh ketika dikatakan goblok, sangat terenyuh.

Kita sering mendengar, bahwa bercanda itu Ketika kedua belah pihak tertawa. Jika hanya satu pihak, maka itu bullying. Ke depan nya, kita harus berhenti menormalisasi bullying, dengan berlindung di balik kata “hanya becanda”.

CHORD GITAR – GALA BUNGA MATAHARI – SAL PRIADI

[Chorus] G#sus2 C#m Fm7 Mungkinkah? Mungkinkah? Mungkinkah C#m Fm7 Kau mampir hari ini? A#7 A#m7 D#7…

HIDUP KADANG DI ATAS, KADANG DI BALI

  Bali menjadi tujuan wisata paling popular di Indonesia. Konon katanya, orang luar negeri lebi…

SIAPA YANG WAJIB MEMBUKTIKAN?

  Sambil tiduran di sofa kantor, memantau lalu lintas melalui google maps yang semua ruas jalan…

4 tanggapan untuk “BERCANDA ATAU BULLYING”

  1. Selain bercandaan dengan penjual minuman, yang kemudian lebih parah muncul video beliau yang sangat merendahan perempuan dalam hal ini Bu Yati Pesek. Sedih banget liatnya. Gak ngebayangin kalau ibu sendiri diperlakukan kayak gitu 🙁

    1. Iya mas.. padahal beliau seorang tokoh agama

  2. mulutmu harimaumu, bersyukur si ustad sudah mundur dari jabatannya 😉

    1. semoga beliau bisa lebih bijak lagi ke depannya

Tinggalkan Balasan ke djangki Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opini

Filsafat

Sastra

Copyright © The Stress Lawyer – 2024