Work Life Balance di Dunia Lawyer

โ€”

by

Belakangan, isu work life balance menjadi isu kontroversial. Di media sosial, perdebatan panjang mengenai work life balance ini tak pernah habis. Banyak yang menuntut work life balance harus diterapkan di dunia kerja demi menjaga kewarasan, kata nya sih begitu.

Apa sih work life balance ini? Yang aku pahami sejauh ini adalah adanya keseimbangan antara kehidupan pribadi dengan pekerjaan. Inti nya bekerja sesuai jam kerja dan job desk, setelah itu jalani hidup normal seperti penduduk bumi pada umum nya.

Saya pribadi tidak ada masalah dengan isu ini, buat yang ingin menjalani work life balance ya silahkan, bagi yang tidak yang silahkan juga. Hidup ini pilihan kawan. Apa yang harus diributkan?

Tapi apakah work life balance ini bisa diterapkan di dunia lawyer? Bisa iya bisa tidak. Namun sepanjang pengalaman saya terjebak di profesi lawyer ini, memang sangat susah menerapkan work life balance, apalagi buat lawyer litigasi seperti saya. Kenapa begitu?

Bayangkan, ketika bumi diselimuti terang, kami sudah di Pengadilan atau di kantor polisi. Di Pengadilan, antri sidang, kapan sidang dimulai hanya hakim dan Tuhan yang tahu. Selesai sidang, gelap udah menyelimuti bumi. Drafting nya kapan? Ya malam hari. Emang setiap hari di luar kantor? Bisa jadi, untuk yang perkara nya banyak, buat yang perkara nya sedikit mungkin bisa.

Selain itu, saya pernah menangani perkara, yang mana klien nya berada di luar negeri yang perbedaan waktu 14 jam dengan Jakarta. Kami online meeting start dari jam 1 dini hari, selesai jam 4 dini hari. Tidur, jam 9 pagi berangkat ke pengadilan. Di Pengadilan antri sidang, kembali kapan sidang dimulai hanya hakim dan Tuhan yang tahu. Pulang, sudah gelap. Begitu lah seterusnya seperti lingkaran setan.

Saya bukan orang yang keras menolak work life balance, mungkin di sebagian profesi, work life balance ini sangat mungkin diterapkan. Tapi di lawyering, seperti saya katakan di awal sangat susah. Makanya ketika saya menginterview calon associate, selalu saya tanyakan mengenai pandangan nya tentang work life balance. Bagi yang sudah pengalaman mungkin sudah paham, namun bagi freshgraduate, perlu diberi pemahaman bagaimana praktek lawyering.

Jadi bagi kamu yang ingin jadi lawyer dan tetap ingin work life balance, saran saya, jangan pilih jadi lawyer litigasi.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *