Di waktu lain, saya mendampingi seorang anak SMA yang tertangkap membawa senjata tajam pada saat hendak melakukan tawuran. Usia nya sudah 18 tahun, sehingga tidak masuk kategori anak. Ibu nya seorang penjual sayur keliling. Sudah 5 tahun menjanda. Dia anak satu-satu nya. Setiap sidang ibu nya selalu datang, karena ibu nya tidak punya uang untuk mengunjungi anak nya di Rutan Salemba. Rumah mereka di Lenteng Agung.
Dalam penanganan kasus ini, saya bisa melihat betapa besar kasih sayang ibu kepada anaknya. Bagaimana pun perbuatan anaknya ibu nya tetap menyayangi anaknya, tanpa membela kesalahan si anak. Padahal si anak sering menyalahkan ibu nya atas kondisi yang sedang dia hadapi saat ini. Menurut si anak, dia masuk penjara karena doa ibunya, karena seminggu sebelum tertangkap, ibu nya pernah memarahi nya karena bolos sekolah, dan bilang, “kalau kamu nakal terus, besok-besok akan ditangkap polisi”.
Perkara ini kami tangani melalui LBH, jadi tidak dipungut biaya satu sen pun. Suatu hari si ibu membawakan saya 1 kg ikan teri medan. “Pak saya tidak punya uang, ini jualan saya. Bapak terima ya.” Saya berusaha menolak, namun si ibu memaksa. Akhir nya saya terima. “Bu besok-besok jangan bawa lagi ya. Mending ibu jual aja. Saya anak kos, di kos an saya tidak ada dapur, jadi saya tidak pernah masak.”
Si ibu memberikan dari kekurangannya. Mungkin bagi banyak orang, 1 kg ikan teri, tidak ada harga nya. Tapi yang saya terima bukan hanya ikan teri 1 kg, tapi ketulusan dan ucapan terima kasih dari kasih sayang seorang ibu. Itu lebih bernilai dari sejumlah nominal uang.

Tinggalkan Balasan