
Sadar gak sih, jika pejabat kita sering kali mengeluarkan statemen yang bikin rakyat geleng-geleng kepala. Pada akhirnya, ketika publik mengkritisi, si pejabat dengan enteng nya berkata “hanya guyon”.
Belum lagi ada pejabat yang dengan jumawa nya menantang rakyat nya karena mengkritisi kebijakan yang baru diterbitkan. Bupati Kabupaten Pati contohnya. Apa mereka tidak sadar bahwa di jaman sosial media ini, semua informasi terbuka dan mudah diakses oleh masyarakat. Bayangkan, dalam beberapa hari sejak potongan video nya beredar, seruan aksi bergelora di sosial media. Dan faktanya pada tanggal 13 Agustus 2025 kemarin, kemarahan rakyat terlihat jelas dalam aksi demo di depan pendopo kabupaten Pati.
Pejabat harus nya sadar bahwa setiap ucapan, tingkah laku dan gestur mereka diawasi oleh masyarakat. Sehingga jadi lah pejabat yang berwibawa dan konsisten dalam tindakan maupun ucapan. Sekarang masyarakat tidak lagi memandang pejabat sebagai sosok yang perlu ditakuti, seperti jaman orde baru.
Begitu juga dengan menteri-menteri kita. Entah apa kualifikasi nya sehingga mereka “layak” duduk di kursi mereka. Sejak kabinet dibentuk, tak terhitung menteri yang memberikan statement-statement yang blunder, sehingga Presiden sebagai atasan nya harus terlibat untuk “bersih-bersih”, walaupun banyak yang berpendapat hal ini seperti sudahh diatur, dimana pejabat memberikan statement, publik geram lalu presiden muncul sebagai sosok pahlawan yang memperbaikinya. Setelah dipikir-pikir, pola ini sering berulang, sehingga jangan salahkan rakyat jika soudzon kepada pemerintah nya.
Hendaknya pejabat kita belajar lah public speaking yang baik. Dan tentunya stop mengurusi hal remeh temeh karena faktanya hal-hal besar yang menyangkut hajat hidup orang banyak masih perlu diperhatikan oleh pemerintah.



Tinggalkan Balasan