
Sumber Gambar: https://mwaliman.blogspot.com/2021/07/des.html
Kampung kami di Tarutung, perayaan 17 Agustus dirayakan cukup meriah. Seminggu sebelum puncak acara, berbagai perlombaan diadakan, gerak jalan, cerdas cermat dan lainnya. Malam 16 Agustus, diadakan pawai obor, kami menyebutnya Taptu, sampai sekarang saya tidak tidak tahu apa arti nya Taptu ini.
Bagi anak kecil seperti kami, 17 Agustus berarti kami boleh membeli mainan. Kami hanya boleh beli mainan di tanggal 17 Agustus, di hari lain tidak boleh, bahkan pada saat ulang tahun pun tidak. Kebetulan ulang tahun ku bertepatan dengan tanggal 17 Agustus, itu saja.
Selain perlombaan hiruk pikuk dan mainan itu, ada satu yang begitu melekat di ingatan ku. Ada satu buah yang satahu saya hanya muncul pada perayaan 17 Agustus. Kami menyebutnya “tungir-tungir”. Buahnya kecil. Berwarna merah, kulit nya kuning kecoklatan. Sepintas mirip buah klengkeng tapi dalam nya beda. Rasanya manis kecut, cukup segar. Seingat ku buah ini tidak pernah diperjual belikan di luar itu. Saya juga tidak tahu dari mana asalnya dan apa nama asli nya. Tungir, sebenarnya merujuk pada kutu kecil berwarna merah yang biasa parasit di ayam, walaupun kadang nyasar ke kelamin atau selangkangan anak kecil.
Sejak merantau, saya sudah tidak pernah lagi melihat buah itu. Terkadang rindu rasa nya walaupun jaman dulu saya tidak terlalu suka dengan buah ini.
Tinggalkan Balasan