Lawyer atau pengacara menjadi Top 10 profesi impian banyak orang, khusus nya bagi orang Batak seperti kami. Jangan heran jika mamak-mamak kami itu berharap anak nya menjadi lawyer, atau setidak-tidaknya punya menantu lawyer.
Mungkin ini lah yang melahirkan stereotype, banyak orang Batak menjadi lawyer, selain karena sepak terjang senior-senior kita yang kaya raya itu.
Aku menjadi lawyer bisa dikatakan karena kecelakaan. Tak pernah ada kata lawyer di rencana hidup ku. Jika dibreakdown, perubahan cita-cita ku bisa dijelaskan seperti ini:
Usia 4 โ 5 tahun (udah agak bisa mikir dikit) : Ingin jadi Pilot, tapi karena takut dengan suara pesawat, akhirnya direvisi.
Usia 5- 8 tahun : Ingin jadi Dukun, karena nonton film horor, Dukun nya bisa ngalahin setan terakhir.
Usia 8 โ 12 tahun : Ingin jadi Pendeta (gak tau kenapa bisa kepikiran jadi pendeta).
Usia 12 โ 14 tahun : Ingin jadi Tentara (ternyata memasuki usia SMA pertumbuhan ku mentok, badan tidak tinggi-tinggi).
Usia 14 โ 17 tahun : jadi remaja labil yang belum tau mau jadi apa.
Usia 17 tahun : memilih kuliah hukum karena gak suka pelajaran hitung-hitungan, padahal dari kelas IPA.
Usia 17 โ 18 tahun : mulai menyukai kuliah hukum, ingin jadi Hakim.
Usia 18 โ 20 tahun : mulai suka filsafat dan dekat dengan beberapa dosen di kampus, ingin jadi Dosen.
Usia 20 – 21 tahun : kembali kepikiran jadi hakim, ternyata begitu lulus kuliah ada moratorium penerimaan hakim.
Usia 21 tahun โ sekarang : terjebak jadi Lawyer, dan menjadi stress sendiri.
Betapa rumit nya diri ku hanya untuk menentukan cita-cita. Jadi kalau ditanya sekarang, apakah masih bercita-cita jadi Lawyer, ya gimana udah kecemplung di sini, walaupun di pikiran ku ada rencana akhir, usia 50 tahun kalau masih hidup, ingin pensiun jadi Lawyer, pulang ke kampung jadi peternak Babi. Ngeri gak tuh.


Tinggalkan Balasan