Miskin dan Penganiaya

Sebagaimana sudah saya sebutkan dalam tulisan-tulisan sebelumnya, bahwa syarat klien yang kami terima untuk didampingi di LBH itu adalah miskin dan teraniaya. Kedua syarat ini memang combo double yang sering dialami oleh orang-orang, udah miskin sering dianiaya pula. Ada beberapa LBH yang syarat teraniaya ini lebih dispesifikkan lagi, yaitu teraniaya oleh kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat. Begitu juga dengan miskin, yaitu miskin struktural karena pemerintah yang tidak dapat memberikan jaminan kesejahteraan kepada rakyatnya.

Di kantor kami tidak sampai sedetail itu. Miskin, kami kategorikan sebagai orang yang penghasilannya UMR ke bawah, dan teraniaya, berarti hak-hak nya dilanggar secara tidak adil, baik pemerintah maupun orang lain.

Ada seorang ibu yang datang minta pendampingan hukum ke kantor kami. Saya yang terima konsultasi nya. Belum bercerita, si ibu sudah menangis berurai air mata. Di benak saya, si ibu ini pasti mengalami suatu ketidakadilan yang sangat luar biasa. Wajahnya benar-benar sedih, dan air matanya mengalir deras.

Saya mencoba menenangkan si ibu. Sambil memberi waktu sejenak agar si ibu bisa meredakan tangisnya dan mulai menceritakan permasalahan hukumnya. Setelah tangisnya berhenti, saya mulai sesi konsultasi.

“Ibu ada masalah apa? Boleh diceritakan?”

“Pak maaf ya pak, saya menangis gini karena saya tidak kuat. Saya benar-benar sedih dan tertekan.”

“Kenapa ibu?”

“Jadi gini pak, saya melaporkan tetangga saya, karena hendak mencelakakan saya. Saya sudah buat laporan polisinya, tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjutnya pak. Tetangga saya masih bebas, saya takut kalau tetangga saya mencelakakan saya.”

“Laporan polisinya di kantor polisi mana bu? Sudah berapa lama?” Di pikiran saya, ini polisi gimana sih, orang sudah terancam gini tapi belum ditindaklanjuti.

“Di Polres Jakarta Utara pak, dua hari lalu.”

“Oh baru dua hari lalu bu. Kan memang polisi juga butuh waktu, ada proses administrasinya. Tunggu saja dulu sampai 7 hari, nanti ibu dipanggil dulu sebagai pelapor, baru setelah itu terlapor nya baru diundang untuk diklarifikasi. Tapi sebelumnya, perkara nya apa ya bu sampai ibu terancam?”

“Jadi gini pak. Rumah saya kan di dalam gang, posisi rumah saya paling ujung. Saya sudah puluhan tahun tinggal di sana. Tetangga saya ini baru 2 tahun di sana. Gang nya kan sempit ya pak, cuma sekitar satu meter. Jadi kalau saya mau ke rumah pasti lewat dari depan rumah nya dia.”

“Ibu dihalang-halangi orang ini kalau lewat dari depan rumahnya? Atau gimana?”

“Nggak sih pak, gak mungkin berani dia menghalangi, saya warga lama di sana.”

“Terus masalahnya dimana bu.”

“Jadi rumah kami ini petakan pak. Kamar mandi nya sempit, jadi tetangga saya ini sering nyuci di depan rumah nya, air cuciannya itu suka ngalir ke jalan. Itu kan air sabun pak, jadi nya licin. Saya pernah hampir jatuh karena terpeleset pak. Itu kan bahaya banget ya pak ya.”

“Ibu sudah pernah omongin belum ke tetangga nya? Bagaimana respon nya?”

“Sudah pak. Tapi dia tetap masih nyuci di depan rumah nya.”

“Di gang ibu ada berapa rumah?”

“Ada 5 rumah pak. Bentuknya rumah kontrakan gitu pak dempet semua, saya paling ujung, tetangga saya ini pas di sebelah saya.”

“Yang nyuci di depan rumah dia aja, atau ada tetangga lainnya.”

“Semua nya sih suka nyuci di depan rumah pak, karena memang kamar mandi nya sempit pak, gak nyaman kalau dipakai nyuci. Saya juga nyuci dan jemur di depan rumah.”

“Lah ibu gimana sih, ternyata ibu juga ikut nyuci di depan rumah. Artinya ibu sama aja dong dengan tetangga ibu.”

“Tapi kan pak, saya di ujung, gak ganggu orang lewat.”

“Intinya ibu dan tetangga ibu nyuci di depan rumah. Saling mengerti saja bu. Toh ibu juga melakukan hal yang sama. Hanya karena kebetulan saja ibu di ujung. Terus kenapa ibu hanya protes sama tetangga yang satu ini, tetangga lain ibu tidak protes.”

“Karena dia di samping rumah saya pak.”

Ibu ini benar-benar ngotot agar tetangga nya di penjara. Saya melihat bahwa si ibu benar-benar memendam kebencian kepada tetangga nya. Saya tidak menanyakan lebih lanjut lagi. Saya sampaikan bahwa permasalahan ini sebaiknya diselesaikan lewat RT / RW. Toh si ibu nya juga melakukan hal yang sama dengan tetangga nya, tapi kenapa dia protes.

Orang seperti ibu ini beberapa kali saya temui datang ke kantor kami. Dia ingin menggunakan hukum untuk menekan orang yang dia tidak sukai. Ini sudah termasuk penyakit hati. Terkadang orang-orang seperti ini sudah miskin harta miskin hati pula. Saya tidak ingin hukum dijadikan alat untuk “menganiaya” orang lain. Orang-orang seperti ini secara tegas pasti saya tolak di tempat, tidak perlu mengajukan permohonan bantuan hukum.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *