Kopaja dan Kernet Tunawicara

Dapat dikatakan kalau bus Kopaja memiliki cerita tersendiri dalam perjalanan hidup ku. Awal hijrah ke Jakarta, sepeda motor aku tinggal di Semarang, karena belum memutuskan akan stay di Jakarta atau kembali ke Semarang. Awalnya aku ke Jakarta hanya untuk mengikuti Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA), setelahnya kembali ke Semarang. Rencananya aku ingin melanjutkan S2 di Semarang dengan mengajukan beasiswa.

Saya nge kos di daerah Kwitang. Lokasi PKPA di Universitas Bakrie di daerah Kuningan Jakarta Selatan. Menuju ke sana saya biasanya naik Kopaja P20 dari Tugu Tani, turun persis di depan Plaza Festival. Begitu lah rutinitas yang ku jalani setiap weekend selama satu bulan.

Selain untuk urusan PKPA, saya juga sering naik Kopaja P20 untuk melamar kerja, maupun interview kerja yang lokasi nya kebanyakan di sekitaran Jalan Rasuna Said dan Mega Kuningan. Ongkos saat itu kalau tidak salah ingat sekitar Rp4.000,00 (empat ribu rupiah). Cukup murah untuk pengangguran karatan seperti saya.

Seperti bus kota umumnya, di jam-jam tertentu, penumpang akan berdesak-desakan. Tak ada celah untuk sekedar menggerakkan badan. Berbagai aroma bercampur baur, tapi semakin hari hidung semakin terlatih untuk mengabaikan bau tersebut. Untuk urusan melamar kerja, biasanya kemeja akan saya lipat rapih di dalam tas. Setelah tiba di tempat tujuan, saya langsung ke toilet, memakai kemeja yang tersimpan di tas, membasuh wajah yang berkeringat dan menyemprotkan parfum murahan beli di minimarket.

Suatu waktu, saya mendapat panggilan wawancara di sebuah lawfirm di bilangan Mega Kuningan. Masa itu google maps belum seperti sekarang. Saya hanya mencari alamat nya melalui google, hanya dicantumkan alamat. Saya coba cari informasi angkutan umum menuju ke sana, disebutkan naik Kopaja P20 turun di  Mega Kuningan. Saat itu saya belum tahu Mega Kuningan berbeda dengan Kuningan. Di benak saya, Mega Kuningan ini nama sebuah gedung, bukan sebuah lokasi.

Dua jam sebelum waktu interview, saya berangkat. Waktu yang cukup menurut ku agar tidak telat, apalagi aku belum tahu lokasi gedung nya di mana. Begitu naik Kopaja P20, saya sampaikan ke kernet nya,

“Bang, nanti saya turun di Mega Kuningan ya, saya belum tahu tempat nya, tolong diifoin.”

Astaga, ternyata kernet nya tunawicara. Dia hanya mengangguk-angguk sambil berbicara dengan bahasa isyarat. Saya tidak mengerti. Saya mulai berkeringat. Tapi percaya diri saja. Memasuki jalan Rasuna Said, mata saya jelalatan mencari Gedung bernama Mega Kuningan. Tidak ketemu. Bus terus melaju, tidak ada tanda-tanda dari si kernet. Akhirnya saya menerobos kerumunan penumpang menuju kursi supir.

“Bang, saya mau ke Mega Kuningan.”

“Bah, kelewatan abang. Udah mau masuk Ragunan kita ini. Abang turun di sini aja, nanti naik P20 lagi di seberang, bilang aja turun di simpang ke Mega Kuningan.” Kata supirnya. Orang batak ternyata.

Akhirnya aku turun. Menyeberang, lalu naik Kopaja P20 arah sebaliknya. Kali ini saya berdiri di dekat supir. Saya pastikan ke supir nya saya mau turun di Mega Kuningan. Tinggal 40 menit lagi. Jantung berdebar. Aku tidak ingin telat.

Kemudian supir menghentikan bus di depan Menara Karya.

“Siapa tadi yang mau ke Mega Kuningan?”

“Aku bang.” Sahut ku.

“Abang turun di sini, dari sini jalan ke dalam, itu kawasan Mega Kuningan.” Jawab nya.

Aku pun turun dan mengucapkan terima kasih banyak ke supir Kopaja. Dari menara Karya menuju gedung tempat interview ternyata tidak terlalu jauh, hanya sekitar 500 meter. Masih bisa berjalan kali. Kurang dari 5 menit, sebelum waktu yang ditentukan, saya tiba di tempat interview. Tidak telat untung nya. Walaupun akhirnya aku juga tidak diterima di lawfirm tersebut.

Sekarang bus Kopaja sudah tidak lagi melintas di jalanan kota Jakarta. Sudah tergantikan dengan TransJakarta dan Jaklingko. Setiap kali lewat jalan Rasuna Said, saya selalu teringat dengan pengalaman naik Kopaja. Kadang terbayang, sekarang supir dan kernet bus-bus kota seperti Kopaja, Metromini, Mayasari Bakti dan bus lainnya kemana ya? Apakah direkrut menjadi supir TransJakarta atau Jaklingko, atau berubah profesi yang lain.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *