Lawyer Menyamar Jadi Klien

Salah satu skill yang harus dimiliki lawyer adalah kemampuan profiling. Tak perlu secanggih CIA, Mossad atau MI6, cukup seperti netijen Indonesia saja. Sebagaimana aku sampaikan dalam tulisan-tulisan sebelumnya, tidak semua klien yang datang itu jujur. Banyak yang menyembunyikan informasi. Alasannya beragam, mungkin bisa jadi dia tidak ingin terlalu terbuka karena belum percaya dengan kita, atau dia memang sengaja menyembunyikan kelemahan kasus nya.

Di satu sore, datanglah dua tiga orang, dua bapak-bapak dan satu orang ibu-ibu. Mereka hendak berkonsultasi terkait permasalahan tanah. Entah kenapa akhir-akhir ini saya sering kali menerima konsultasi kasus pertanahan, padahal saya sendiri tidak punya tanah sepetak pun.

Sebetulnya tidak ada yang aneh dari kasus nya, ya kasus pertanahan pada umumnya saja. Klien nya pun bukan klien yang unik bin aneh seperti yang banyak saya tuliskan. Intinya klien dan kasus ini seperti pada umumnya saja.

Hingga sesi konsultasi akan berakhir, seperti biasa saya ajak klien ngobrol ringan. Dan saya iseng, berkata kepada salah satu bapak yang dari tadi banyak bertanya.

“Bapak ini kayaknya cocok deh jadi lawyer. Dari tadi nanya nya teknis banget. Jangan-jangan bapak dosen fakultas hukum lagi.”

Tiba-tiba si bapaknya kikuk, dan tersenyum janggal. Si ibu kemudian menimpali.

“Dia memang lawyer pak. Beliau yang mengajak saya ke kantor ini.”

“Oalah pak, pantas. Tapi kenapa bukan bapak saja yang menjelaskan ke bapak sama ibu ini.”

“Betul pak, saya yang ajak ibu ini ke kantor bapak. Ibu ini tidak yakin dengan penjelasan saya, makanya saya ajak untuk ketemu lawyer lain.”

Saya sedikit kaget dan ikut-ikutan kikuk, karena si bapak lawyer itu lebih senior dari saya.

“Tuh kan bu, penjalasan bapaknya, sama dengan yang saya jelaskan. Sekarang ibu sudah yakin.” Si ibunya hanya tersenyum.

“Wah saya jadi malu nih bu, terlalu banyak bicara di depan senior. Tapi lain kali ibu kalau mau cari second opinion, jangan bawa lawyer bu, ntar dikirain mau adu ilmu.” Kata saya sambil bercanda.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *